Resiko Internet Banking telah tampak
I Made Wiryana *) dan Tedi Heriyanto **)
Dalam perkembangannya yang pesat seringkali Internet
menyebabkan beberapa dampak negatif kepada penggunanya. Kejadian "klikBCA"
semu yang baru saja terjadi menyadarkan para pengguna Internet banking di
Indonesia akan hal ini. Saat ini, waktu antara diperkenalkannya suatu teknologi dengan
penggunaannya secara massal relatif sangat singkat. Di tambah lagi perusahaan
yang tadinya tak pernah menggunakan perangkat lunak tertentu, sekarang
menjadi bergantung pada perangkat lunak tersebut.
Seringkali kita menerima keuntungan ekonomis atau
lainnya dari TI (Teknologi Informasi), tetapi lupa mempertimbangkan
analisis cost-risk-benefit secara komprehensif. Pertimbangan
resiko seringkali dilakukan setelah timbulnya kejadian atau munculnya
kerugian. Kecenderungan menutupi kejadian seringkali malah menyebabkan
kurang adanya edukasi pada pengguna. Perilaku yang menganggap penanganan
masalah sekuriti hanyalah bagian dari Public Relation (PR) sebaiknya
perlu ditinggalkan. Karena hal tersebut sangat merugikan kustomer.
Semakin kompleks dan saling terhubungnya antar bagian
dalam sistem, menjadikan sistem makin sulit untuk dijamin keamanannya.
Sekuriti adalah suatu proses, bukan produk. Sebagai proses maka sekuriti
itu memiliki banyak komponen. Sekuriti juga seperti rantai yang terdiri
dari banyak mata rantai. Seperti halnya rantai, maka kekuatan sistem
setara dengan kekuatan dari mata rantai yang terlemah. Pada kasus KlikBCA
ada dua hal yang menjadi rantai terlemah dari sistem yang terserang,
yaitu ketak-pedulian user, dan kekurang-tanggapan BCA. Dua kelemahan ini
menjadikan komponen relatif lebih kuat (misal 128-bit SSL) menjadi hilang
artinya.
Tulisan ini akan menerangkan secara sekilas resiko dan
kemungkinan yang ada dalam Internet bank. Penulis tidak bermaksud
menakut-nakuti tetapi mencoba mengedukasi pengguna karena informasi dari
pemberi layanan Internet banking di Indonesia relatif sangatlah terbatas.
Beberapa hal sengaja tidak dijelaskan secara rinci, tetapi pada bagian
akhir tulisan diberikan daftar referensi untuk memudahkan bagi yang ingin
mendalami hal ini. Pada bagian akhir akan diberikan skenario ancaman
lainnya, bukan maksud penulis untuk menakut-nakuti hanya sekedar
memberikan peringatan kepada para pembaca.
Kekuatan dan kelemahan Secure Socket Layer
Sebagian besar penyelenggara Internet banking di
Indonesia mengklaim menggunakan teknologi Secure Socket Layer (SSL) untuk
menjamin keamanan layanan mereka. Jaminan SSL 128 bit
inilah yang sering digunakan dalam iklan dan dalam meyakinkan kustomer.
Kata-kata lainnya yang sering digunakan dalam menjamin keamanan para
pengguna adalah penggunaan firewall, Public Key Infrastructure dan
Encryption Accelerator Card. Pendekatan keterbukaan belum menjadi
suatu tradisi pada Internet Banking di Indonesia. Sehingga penjelasan
sekuriti relatif masih berfungsi sebagai PR belaka.
Sayangnya seringkali informasi yang diterima pengguna
kuranglah lengkap mengenai apa yang diamankan oleh SSL
ini. Begitu juga dengan firewall kurang dijelaskan apa yang
diamankan oleh firewall ini. Hal ini mengakibatkan munculnya,
pemahaman akan adanya jaminan keamanan semu dalam benak pengguna.
Pengguna sering memiliki anggapan karena sudah memakai SSL maka pasti
koneksi yang dilakukannya aman, tak ada masalah sekuriti yang bisa
timbul. Hal ini juga dididorong oleh informasi yang kurang lengkap dari
penyedia jasa Internet Banking.
SSL (Secure Socket Layer) pada dasarnya merupakan suatu
mekanisme yang melindungi koneksi dari usaha penyadapan. Hal ini karena
komunikasi yang terjadi antara client-server melalui suatu jalur yang
dienkripsi. Tetapi sistem ini tidak melindungi dari salah masuknya
pengguna ke host yang berbahaya, ataupun tak melindungi apakah
suatu kode yang didownload dari suatu situs bisa dipercaya, atau apakah
suatu situs itu bisa dipercaya. Abadi (1996) telah menunjukkan kelemahan
protokol SSL versi awal secara teoritis. Jadi jelas SSL ini tidak
melindungi dari beberapa hal misal (detail dari tiap ancaman ini tidak
dibahas pada tulisan ini):
- Denial of Services
- Buffer overflow
- Man-in-the-middle attack
- Cross scripting attack
Pada model SSL, user-lah yang harus
bertanggung jawab untuk memastikan apakah server di ujung sana yang ingin
diajak berkomunikasi benar-benar merupakan server yang
ingin dituju. Pada dunia nyata untuk meyakinkan bahwa orang yang dihubungi
adalah orang sesungguhnya, dapat dilakukan dengan mudah karena orang
saling mengenal. Dengan melihat muka, suara, bau dan sebagainya kita bisa
mendeteksi bahwa dia orang yang sesungguhnya.
Pada dunia Internet hal seperti itu sulit dilakukan,
oleh karenanya digunakan sertifikat digital untuk melakukan hal ini.
Sertifikat ini mengikat antara suatu public key dengan suatu
identitas. Sertifikat ini dikeluarkan oleh sebuah pihak yang disebut CA
(Certificate Authority) misal dalam hal ini Verisign atau Thawte.
CA sendiri memperoleh sertifikat dari CA lainnya. CA yang tertinggi
disebut root dan tidak memerlukan sertifikat dari CA lainnya. Penanganan
sertifikat ini dilakukan secara hierarki dan terdistribusi.
Sayangnya sertifikat digital saja, bukanlah obat mujarab
yang bisa mengobati semua jenis permasalahan sekuriti. Agar SSL dapat
bekerja dengan semestinya (melakukan koneksi terenkripsi dengan pihak yang
semestinya), maka penggunalah yang harus memverifikasi apakah sertifikat
yang dimiliki oleh server yang ditujunya adalah benar. Berikut ini adalah
beberapa hal minimal harus diperhatikan :
- Apakah sertifikat tersebut dikeluarkan oleh CA yang dipercaya.
- Apakah sertifikat tersebut dikeluarkan untuk pihak yang
semestinya (perusahaan yang situsnya dituju).
- Apakah sertifikat itu masih berlaku.
Sayangnya banyak orang tak peduli terhadap permasalahan
di atas. Sebetulnya ketika melakukan koneksi ke sebuah situs yang
mendukung SSL, hal tersebut ditanyakan oleh browser, tetapi sebagian
besar pengguna selalu menekan Yes ketika ditanya untuk
verifikasi sertifikat ini. Untuk melihat ketiga hal tersebut, dapat
dilakukan dengan double-click pada tombol kunci yang ada di bagian
kiri bawah browser.
Begitu juga dengan keterangan 128-bit SSL. Seringkali
tanpa dilengkapi dengan penjelasan semestinya apa maksud 128-bit ini, dan
apa kaitannya dengan PIN pengguna, ataupun hal lainnya. Masih banyak
perusahaan yang mengambil mentah-mentah keyakinan akan keamanan SSL ini
tanpa mencoba memahami atau menerangkan keterbatasan SSL dalam melakukan
perlindungan. Sebagai dampaknya pengguna menjadi tak peduli terhadap
ditail mekanisme transaksi yang dilakukannya.
Dengan memanfaatkan kekurang-waspadaan pengguna dapat
timbul beberapa masalah sekuriti. Berikut ini adalah celah sekuriti dalam
penggunaan SSL yang diakibatkan oleh server si penyerang di luar server
asli. Celah seperti ini relatif sulit dideteksi dan dijejaki tanpa
adanya tindakan aktif, karena terjadi di server lain. Celah ini pada
dasarnya dilakukan dengan cara mengalihkan akses user dari situs aslinya
ke situs palsu lainnya, sehingga dikenal dengan istilah page
hijacking. Beberapa kemungkinan teknik yang digunakan untuk
melakukan hal ini adalah :
- Ticker symbol smashing.
Biasanya digunakan pada pengumuman press release, dengan
memanfaatkan simbol dari perusahaan besar lainnya. Sehingga secara
tersamar pengguna akan belok ke situs ini. Misal Perusahaan KUMBAYO
baru saja meluncurkan produknya. Perusahaan ini tak ada hubungan dengan
Bank Ha Ha. Misal Bank Ha-Ha adalah suatu bank
besar. Dengan cara ini orang akan terdorong ke situs perusahaan KUMBAYO,
yang semula akan ke Bank Ha-Ha.
- Web Spoofing (Felten et al, 1997).
Memanipulasi alamat URL pada sisi client, sehingga akan memaksa si korban
melakukan browsing dengan melalui situs tertentu terlebih dahulu. Dengan
cara ini dapat menyadap segala tindakan si korban, ketika melakukan akses
ke situs-situs. Sehingga si penyerang dapat memperoleh PIN ataupun
password. Cara ini biasanya memanfaatkan trick URL
Rewrite. Umumnya pengguna awam tak memperhatikan apakah akses
dia ke suatu situs melalui http://www.yahoo.com ataukah melalui
http://www.perusak.org/http://www.yahoo.com. Karena yang tampil
di browsernya adalah tetap halaman dari www.yahoo.com
- DNS Spoofing (Bellovin, 1995).
Teknik ini digunakan untuk memanfaatkan DNS server untuk membangkitkan
celah sekuriti. Dengan cara ini penyerang mampu membelokkan seorang
pengguna ke server DNS lain yang bukan server semestinya, ketika ia
memasukkan nama situs. Dengan cara ini maka penipuan dapat dilanjutkan
misalnya dengan mengumpulkan PIN atau password.
- typo pirates. Dengan cara
mendaftar nama domain yang hampir mirip, dan membuat situs yang mirip.
Pengguna yang tak waspada akan masuk ke situs ini dan memberikan PIN dan
password. Cara inilah yang terjadi pada kasus KlikBCA palsu. Hal ini
disebabkan sebagian besar pengguna tak waspada, apakah alamat URL
(Universal Resource Locator) yang dimasukkannya benar pada saat ia
mengakses suatu situs web, dan apakah sertifikat yang diterima sama
dengan sertifikat seharusnya pada saat ia mengakses situs web yang
mendukung SSL.
- cybersquating. Membeli nama
domain yang mungkin akan digunakan orang. Tujuan penggunaan cara
ini adalah lebih kepada mengambil keuntungan keuangan dengan menjual
kembali domain tersebut pada harga yang jauh lebih tinggi daripada harga
sebenarnya.
- Man-in-the-middle-attack. Cara ini
dilakukan dengan memaksa orang percaya bahwa situs yang dituju sama
halnya dengan situs asli. Hal itu dilakukan dengan mencegat akses
pengguna ketika hendak melakukan koneksi ke situs asli, teknik seperti
TCP Hijack sering digunakan, lalu meneruskan akses
pengguna ke web situs sebenarnya. Sepintas lalu hal ini tidak terlihat
oleh pengguna. Serangan ini lebih berbahaya daripada sekedar typo
pirates. Resiko ini bisa timbul ketika jalur penyerang berada di
antara pengguna dan situs penyedia layanan.
Trik-trik di atas sebagian besar memanfaatkan
kelengahan pengguna, atau keawaman pengguna. Dalam mendisain
sistem maka perlu diperhatikan kelengahan pengguna ini. Baik kesalahan
dia mengetik nama situs, dan lain-lainnya. Untuk itu sudah sepantasnya
pemahaman tentang user Indonesia perlu dilakukan lebih dalam sebelum
dilakukan perancangan sistem ini.
Begitu juga dengan produk firewall, sering kali banyak
jaminan semu yang diberikan penyedia jasa Internet banking dengan
mengatakan bahwa sistem akan aman, karena menggunakan firewall merek
tertentu. Jaminan ini tidak bicara apa-apa. begitu juga dengan card
encryption accelerator. Sebab pada hakikatnya pernyataan
aman memiliki rentang pembicaraan. Sehingga lebih tepat
disebutkan aman ketika melakukan hal apa, aman
terhadap apa atau aman terhadap siapa. Bahkan
ada keterangan yang mengatakan bahwa firewall berkaitan dengan otorisasi
login dari seseorang pengguna. Jelas keterangan ini akan menyesatkan
pengguna. Sudah saatnya penyedia jasa layanan Internet Bank, memberikan
informasi yang lebih tepat.
Disain sistem dari sisi user
Orang/pengguna merupakan sisi terlemah dari sekuriti.
Mereka tak memahami komputer, mereka percaya apa yang disebutkan
komputer. Mereka tak memahami resiko. Mereka tak mengetahui ancaman yang
ada. Orang menginginkan sistem yang aman tetapi mereka tak mau melihat
bagaimana kerja sistem tersebut. Pengguna tak memiliki ide, apakah situs
yang dimasukinya situs yang bisa dipercaya atau tidak.
Salah satu permasalahan utama dengan user di sisi
sekuriti, adalah akibat komunikasi atau penjelasan yang kurang
memadai pada user dan disain yang kurang berpusat pada user yang
mengakibatkan lemahnya sekuriti (Adams dan Sasse, 1999). User
seringkali tak menerima penjelasan yang cukup, sehingga mereka membuat
atau mereka-reka sendiri resiko atau model sekuriti yang terjadi.
Seringkali ini menimbulkan pengabaian dan mengakibatkan kelemahan
sekuriti.
Di samping itu, akibat pengabaian para pendisain sistem
terhadap perilaku user dalam berinteraksi terhadap sistem, maka timbul
kesalahan misalnya adanya pengetatan yang tak perlu, yang malah
mengakibatkan user mengabaikan pengetatan itu. Atau penyesuaian kecil
yang seharusnya bisa dilakukan untuk menambah keamanan, tetapi tak
dilakukan. Sebagai contoh layout page tidak pernah
mempertimbangkan sisi sekuriti, ataupun belum ada desain layout yang
meningkatkan kewaspadaan pengguna akan keamanan. Disan halaman Web lebih
ditekankan pada sisi estetika belaka. Untuk itu sebaiknya dalam disain
sistem, user diasumsikan sebagai pihak yang memiliki kewaspadaan
terendah, yang mudah melakukan kesalahan. Artinya pihak
perancanglah yang mencoba menutupi, atau memaksa si user menjadi waspada.
Penyedia jasa sangat perlu memberikan keterangan tentang
mekanisme sekuriti termasuk resiko dan langkah yang perlu diperhatikan,
termasuk juga ancaman yang dapat membuat lemahnya sistem sekuriti.
Komunikasi antar pengguna dan pembuat sistem menjadi sangat penting.
Seperti yang diungkapkan oleh Dirk Henze dari BSI (Bundesamt für
Sicherheit in der Informationstechnik) pada Computerzeitung, solusi
teknik bukanlah satu-satunya yang perlu diperhatikan, penjelasan ke
pengguna sangat dibutuhkan. Pengguna perlu diingatkan akan resiko dan
situasi yang perlu diperhatikan ketika melakukan transaksi melalui
Internet. Solusi teknis dan penjelasan kepada user merupakan suatu
kesatuan yang tak bisa diabaikan.
Beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh penyedia
layanan dalam merancang sistem yang berkaitan dengan sisi pengguna adalah
:
- Sekuriti perlu menjadi pertimbangan yang penting dari disain
sistem.
Bukan sekedar tempelan iklan belaka. Memberikan
umpan balik pada mekanisme sekuriti akan meningkatkan pemahaman user
terhadap mekanisme sekuriti ini. Sehingga disain tata letak, homepage
juga perlu mempertimbangkan faktor sekuriti ini juga.
- Menginformasikan user tentang ancaman potensial pada
sistem.
Kepedulian akan ancaman ini akan mengurangi
ketakpedulian pengguna terhadap ditail langkah transaksi yang dilakukan.
Sebagai contoh mereka tidak cenderung menekan Yes. Ketika memverifikasi
sertifikat. Memang para pengguna Internet di Indonesia kebanyakan
memiliki kendala dalam hal bahasa. Sehingga mereka
sering melewati dan tak membaca pesan yang tampil di layar. Hal ini
menuntut Semakin perlunya menu dan keterangan berbahasa Indonesia
pada aplikasi Internet Banking. Tidak saja di halaman Internet
tetapi juga di browser yang digunakan para pengguna Internet di
Indonesia.
- Kepedulian user perlu selalu dipelihara.
Secara rutin penyedia layanan harus memberikan jawaban terhadap
pertanyaaan masalah sekuriti, baik yang secara langsung maupun tidak.
Ini dapat melalui newsletter, press release, ataupun white
paper. Sebaiknya jangan digunakan penjelasan yang sekedar menutupi
ancaman sesungguhnya, ataupun jangan juga memberikan penjelasan yang
menakut-nakuti. Keputusan suatu perusahaan untuk menggunakan Internet
sebagai jalur pemberian layanan, memberikan konsekuensi bahwa perusahaan
tersebut juga harus aktif memonitor masukan dari Internet, misal melalui
kotak surat khusus pengaduan, memonitor mailing list yang
mempertanyakan masalah keamanan situs tersebut.
- Berikan user panduan tentang sekuriti sistem,
termasuk langkah-langkah yang sensitif.
Sebaiknya ketika user baru
memulai menggunakan suatu layanan, mereka telah di-"paksa" untuk membaca
petunjuk ini terlebih dahulu. Jangan setelah ada suatu kasus baru
dikeluarkan langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Dokumentasi dan
penjelasan di situs harus lebih ditail dan lengkap lagi.
Selain penyedia jasa, pengguna juga harus lebih waspada
misalnya dengan melakukan beberapa hal berikut ini :
- Memahami prinsip dan keterbatasan sekuriti yang
diberikan.
Secara aktif bertanya kepada penyedia layanan
Internet banking, bagaimana proses keamanan, teknologi yang digunakan,
serta batasan yang ada. Sudah barang tentu, keterbukaan penyedia jasa
dalam menjawab pertanyaan pengguna menjadi suatu hal yang menentukan dalam
hal ini.
- Jangan terlalu mudah menjawab "Yes" pada suatu pertanyaan
. Sebaiknya apapun pertanyaan atau pernyataan yang muncul di
layar perlu dibaca dengan seksama. Karena seringkali ketakpedulian
pengguna ini menyebabkan timbulnya resiko keamanan. Memang masalah
bahasa pengantar pada user interface program browser, telah
menimbulkan permasalahan. Akan lebih mudah bila bahasa
pengantar ini tertulis dalam bahasa Indonesia sehingga pengguna awam akan
lebih mudah memahaminya.
- Sebaiknya hindari penggunaan sistem operasi desktop yang
tidak menjaga integritas, atau lengkapi dengan utilitas bantu
Seringkali masalah keamanan juga timbul akibat pengguna menggunakan
sistem operasi yang tidak memiliki proteksi terhadap kernel (bagian
sistem operasi). Atau tidak bersifat multi user. (Michener, 1999).
Sehingga pengaruh virus, plug-in dapat menyebabkan tingkat sekuriti
rendah. Bila pengguna memutuskan menggunakan sistem operasi semacam ini
(misal DOS, Windows 95/98/ME), maka sudah sewajarnya tingkat pencegahan
harus digunakan oleh pengguna tersebut. Misalnya lebih berhati-hati
dalam menggunakan program asing, Active-X, dan plug-in. Pengguna juga
harus berhati-hati terhadap program-program keylogger yang
berfungsi untuk merekam segala yang anda ketikkan. Sudah barang tentu,
pihak penyedia layanan Internet Bank, jangan hanya mendorong
pengguna memanfaatkan satu jenis sistem operasi saja, sehingga
pengguna tak memiliki pilihan lain untuk melakukan koneksi secara lebih
aman.
- Mewaspadai virus, plug-in, Active-X .
Active X dan plug-in dapat pula menyebabkan bahaya. Karena secara
otomatis mereka dianggap "trusted" (dapat dipercaya). Untuk itu
seringkali pengguna menghadapi dilema, karena seringkali suatu Internet
Banking mengharapkan pengguna menginstall plug-in tertentu, atau suatu
situs mendorong pengguna menginstal plug-in. Padahal penggunaan plug-in
yang diperoleh dari situs di Internet, seringkali sulit diuji
keamanannya, dan meletakkan sistem komputer pengguna dalam resiko yang
tinggi. Memang pilihan berada pada pengguna, apakah harus mengorbankan
keamanan, atau mengikuti instalasi plug-in ini. Instalasi plug-in dan
Active-X dapat menimbulkan kasus sekuriti, hal ini telah ditunjukkan oleh
Chaos Computer Club pada tahun 1997-an. Keberadaaan virus juga dapat
merusakkan integritas komputer client. Saat ini sudah mulai beredar
virus yang dapat menangkap password, PIN, digital signature dari
komputer pengguna dan mengirimkannya ke suatu situs tertentu.
- Sebaiknya pengguna selalu mencatat dan menyimpan log
akses ke Internet.
Log ini akan sangat penting sekali ketika timbulnya suatu kasus di
masa mendatang. Sayang sekali tidak semua sistem operasi di sisi desktop
secara otomatis menyediakan fasilitas log ini. Akan lebih baik lagi, bila
mekanisme log ini dilengkapi mekanisme tanda tangan digital yang
dilakukan 2 pihak terpisah, misal pengguna dan ISP, atau penyedia
jasa Internet banking. Log file (baik milik pengguna, atau penyedia
layanan) yang tak memiliki tanda tangan digital, relatif memiliki kekuatan
hukum yang kurang tinggi.
Beberapa langkah praktis di situs http://salma.haryan.to/tips-ibank.html
menjelaskan cukup ditail langkah-langkah yang harus diamati pengguna
ketika melakukan koneksi ke BCA. Sayang sekali informasi ditail seperti
ini malah disediakan pihak lain, bukan pihak penyedia jasa, dalam hal ini
klikBCA.
Prinsip disain teknologi
Tampaknya sudah saatnya para penyedia layanan Internet
Banking meninjau kembali prinsip disain sistem sekuriti yang telah
dipublikasikan oleh Jerome Saltzer dan MD. Schroeder sejak tahun 1975.
- Least priviledge.
Setiap pengguna atau proses,
harus hanya memiliki hak yang memang benar-benar dibutuhkan. Hal ini akan
mencegah kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh penyerang. Hak akses harus
secara eksplisit diminta, ketimbang secara default diberikan.
- Economy of mechanism.
Disain sistem harus
kecil, dan sederhana sehingga dapat diverifikasi dan diimplementasi
dengan benar. Untuk itu perlu dipertimbangkan juga bagaimana cara
verifikasi terhadap sistem pembangun yang digunakan. Pada beberapa
standard sekuriti untuk aplikasi perbankan , keberadaan source code
menjadi syarat dalam verifikasi.
- Complete mediation.
Setiap akses harus
diuji untuk otorisasi yang tepat
- Open design.
Sekuriti harus didisain dengan
asumsi yang tak bergantung pada pengabaian dari penyerang. Desain sistem
harus bersifat terbuka, artinya jika memiliki source code maka
kode tersebut harus dibuka, sehingga meminimalkan kemungkinan adanya
backdoor (celah keamanan) dalam sistem.
- Separation of priviledge.
Bila mungkin,
akses ke resource sistem harus bergantung pada lebih dari satu
persyaratan yang harus dipenuhi. Model sekuriti yang memisahkan tingkat
pengguna akan lebih baik.
- Least common mechanism.
User harus
terpisahkan satu dengan yang lainnya pada sistem.
- Psychological acceptability.
Pengendalian
sekuriti harus mudah digunakan oleh pemakai sehingga mereka akan
menggunakan dan tidak mengabaikannya. Sudah saatnya disainer memikirkan
perilaku pengguna.
Disain Otentifikasi
Dari sisi otentifikasi, disain sistem yang
mengakibatkan dikirimnya password oleh user sebaiknya dihindari. Sistem
dengan user-PIN sebagai password memiliki kelemahan pada sistem seperti
Web, karena model ini lebih cocok untuk sistem dengan manual interface,
seperti pada ATM (Automated Teller Machine). Penggunaan
Transaction Number (TAN) seharusnya juga diterapkan bila
sistem hanya menggunakan SSL saja. Untuk lebih amannya lagi dapat
digunakan metoda sertifikat secara software, sertifikat dengan smart
card, dan sertifkat dengan biometri. Teknologi tersebut telah ada dan
dapat dimanfaatkan.
Teknologi semacam Home Banking Computer
Interface [http://www.hbci.de]
menggunakan teknologi yang tak hanya bersandarkan pada SSL atau hanya
terbatas pada koneksi menggunakan TCP/IP. Perkembangan model E2S untuk
B2B (Business to Business) di Eropa. (Madsen, 1997) yang
memanfaatkan smart card juga perlu dipertimbangkan. Teknologi semacam
Secure Request Technology (SRT), yang dikembangkan oleh
Brokat GmbH [http://www.brokat.de]
sejak 1997 dan merupakan bagian dari paket XPRESSO Security
Packet yang menggunakan Java, dapat digunakan untuk mempertinggi
faktor keamanan. Sedangkan bila ingin memanfaatkan perangkat keras
tambahan, teknologi semacam MeCHIP dari EDS GmbH [http://www.eds.de] yang telah dikembangkan
sejak 1996-an telah dapat digunakan.
Panduan Penyelenggaraan Internet Banking
Dalam menyediakan layanan Internet banking, penyedia
layanan sebaiknya mengikuti panduan yang biasanya dapat diimplementasikan
dengan mengikuti sistem sertifikasi keamanan, dan juga mengikuti model
sekuriti tertentu. Sistem yang memberikan fasilitas transaksi seperti
transfer keuangan, credit dan debit card, harus memiliki kemampuan untuk
memulihkan kesalahan bila terjadi kesalahan. Beberapa ini adalah beberapa
persyaratan minimum yang harus dipenuhi :
- Jika sistem menyimpan informasi finansial rahasia, maka harus
didisain agar informasi rahasia tersebut dapat digunakan tetapi tanpa
dapat dilihat oleh pengguna . Informasi ini harus tersimpan dalam
subsistem yang trusted yang menjamin bahwa informasi tersebut tak
bisa terbaca walaupun host telah dikuasai oleh pihak lain.
- Subsistem yang menangani database transaksi, record akuntansi, audit
informasi harus diimplementasikan dalam sistem "trusted" yang akan
melindungi informasi ini walau host dikuasai oleh orang lain
- Seluruh transaksi dan operasi memerlukan pengikatan
(binding) yang kuat antara user, kustomer, identitas proses dan
operasi yang dilakukan. Semua operasi ini harus di-log secara aman.
Untuk kebutuhan audit.
Sistem yang menyediakan fasilitas transaksi yang dapat
dijejaki di atas, untuk standard USA rata-rata berada di antara B2, dan
B3 atau E4 untuk standard Jerman. Untuk anonymous transaction
harus menggunakan sistem yang disertifikasi A1 (US) atau E6 (Jerman).
Sistem yang menyediakan fasilitas di atas harus memiliki sistem operasi
dengan model multilevel security system. Biasanya
sekitar B1, atau E3 (untuk standard Eropa). Di Jerman peraturan menuntut
pihak yang menjalankan Public Key Certificate Authority
harus dijalankan pada sistem dengan evaluasi minimal E4. Untuk informasi
lebih lengkap mengenai standard security ini dapat dilihat situs
Trusted Product Evalution Program
[
http://www.radium.ncsc.mil/tpep/tpep.html].
Dalam kegiatannya, jika penyedia layanan Internet banking
ingin memberikan layanan dengan baik, maka sudah saatnya menerapkan 6 langkah
proses proteksi infrastruktur informasi yang meliputi (Cybenko dan Jiang,
2000)
- Intelligence, dilakukan oleh Early warning system
yang terdiri dari :
- Incident report analysis
- Human intelligence gathering
- Automated monitoring web and newsgroup
- Threat assesment. dilakukan dengan simulasi, cost-benefit analysis
terhadap threat.
- Infrastructure epidemiology
- Discrete Event simulation
- Industrial and commercial task forces
- Vulnerability analysis
- Interdiction, dilakukan dengan beragam tool dan
protocol, virus scanner, dan lain-lain :
- Vulnerability detection and repair
- Law enforcement alerts and training
- Network and protocol design
- Detection, dengan teknik data mining
- Automated incident report correlation
- Distributed intrusion detection
- Real time analysis of gigabit networks
- Response, : dengan teknik forensics, mitigation
- Upstream packet tracing
- Secure terabyte packet vaults
- Out of band networking
- Distribtuted sensing
- Recovery : dengan auditing. Seringkali security secara teknis digital
menjadi segala-galanya dan melupakan audit. Untuk informasi sensitif
(misal log file, password file dan sebagainya), diterapkan mekanisme two-person
ruleyaitu harus minimum 2 orang yang terpisah dan berkualifikasi
dapat melakukan perubahan.
- Incident analysis
- Admissible evidence
- Non repudiation
- Third party privacy
Dengan mekanisme di atas, maka si pemberi layanan
semestinya menerapkan prinsip Protect-Detect-React.
Jangan hanya bersikap menanti hingga ada kasus terjadi. Harus
secara terus menerus mengamati informasi, baik melalui jalur hotline, mailing
list, forum diskusi dan lain sebagainya. Dengan beraninya
menawarkan layanan Internet banking, maka sudah sewajarnya bila penyedia jasa
melakukan hal tersebut sebagai suatu bagian dari kegiatan rutin.
Perlindungan konsumen
Tampaknya pendekatan yang dilakukan selama ini yang
cenderung mengabaikan faktor-faktor kecil sudah harus ditinggalkan.
Peningkatan Internet Banking di Indonesia belum dibarengi dengan usaha
dari penyedia layanan untuk mendukung beberapa hal. Karena hal tersebut
sepertinya tak terkait. Kegiatan tersebut antara lain :
- Dukungan bagi lembaga clearance masalah sekuriti,
seperti ID-CERT. Tidak saja dengan dana tetapi juga dengan sumber daya
lainnya termasuk informasi. Sangat sulit sekali mengharapkan ID-CERT
sebagai lembaga yang didorong para sukarelawan untuk dapat mengeluarkan
advisory secara terus menerus bila tak ada dukungan dari penyedia
layanan dan vendor lainnya.
- Mendukung riset dalam bidang sekuriti, bukan saja sisi teknologi,
tapi aspek sosial, dan pengguna. Sudah barang tentu kerja sama antara
pihak penyelenggara layanan dengan pihak universitas atau lembaga
penelitian sangat dibutuhkan dalam hal ini.
- Sertifikasi ataupun produk sekuriti, jangan hanya dijadikan
iklan, tetapi digunakan sebagai panduan minimal untuk melakukan
penyelenggaraan proses. Memang di Indonesia, saat ini belum ada badan
resmi ataupun definisi mengenai standar sekuriti ini, atapun belum ada
panduan semacam yang dikeluarkan oleh BSI dalam dokumen IT Baseline
Protection Manual - Standard security safeguards yang dapat diperoleh di
[
http://www.bsi.de/gshb/english/menue.htm].
Sudah saatnya perlindungan konsumen pada produk TI
mendapat perhatian. Pelaporan mengenai buruknya suatu produk,
jangan dianggap sebagai hal yang negatif. Pemberian informasi
sejelas-jelasnya dan yang tepat harus makin diutamakan. Jangan malah
pihak pemberi layanan memanfaatkan keluguan para pengguna hanya untuk
menimbulkan dampak marketing.
Bila ada laporan mengenai celah sekuriti (baik di
server sendiri, ataupun pada mekanisme keseluruhan). Sebaiknya
segera ditanggapi. Begitu juga komentar atau pernyataan
di mailing-list perlu diamati dan ditanggapi. Jadi pendekatan secara
aktif perlu dilakukan ketimbang secara pasif. Banyak perusahaan
mempertimbangkan masalah ini hanya bagian dari masalah PR. Seringkali
orang tak memiliki pilihan lain selain melaporkan ke umum. Ekspose buruk
dari pers seringkali menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar daripada
nilai kerugian itu sendiri. Untuk itu sudah saatnya perusahaan penyedia
jasa layanan Internet banking, cukup tanggap terhadap pertanyaan dan
komentar mengenai layanannya.
Dari sisi para pengamat sekuriti, memang seringkali
ditempatkan pada situasi yang dilematis. Seringkali pelaporan celah
keamanan ditanggapi dengan tidak semestinya, hingga ditunjukkannya suatu
bukti yang lebih jauh lagi. Sehingga sering pelapor dianggap kriminal.
Padahal kriminal biasanya hanya menyerang sistem karena ada keuntungan,
pencari publisitas akan menyerang sistem bila ada kesempatan pers akan
mengekspose.
Untuk itu, proses pemberian peringatan dapat
menggunakan beberapa panduan antara lain :
- Keterangan mengenai suatu ancaman, sebaiknya bukan untuk
mempublikasikan ketakutan atau mendiskreditkan pihak tertentu. Tetapi
dalam konteks melindungi pengguna.
- Sebaiknya sebelum melakukan pengumuman ke publik, vendor atau
penyedia layanan dikontak terlebih dahulu. Untuk melakukan hal ni dapat
digunakan berbagai cara, misalnya mengirim email/surat langsung, ataupun
melalui telpon. Setelah beberapa saat tidak ada tanggapan, barulah
diumumkan ke publik. Seorang hacker bernama Rain Forest Puppy telah
mengeluarkan panduan yang bagus mengenai Full Disclosure Policy,
http://www.wiretrip.net/rfp/policy.html.
- Informasi detail suatu eksploit harus dicegah. Menunjukkan suatu hal
secara ditail mengenai langkah-langkah yang dilakukan untuk
mengeksploitasi sesuatu celah keamanan sebaiknya tidak dilakukan.
Timbulnya kasus KlikBCA semu memunculkan pertanyaan
terhadap kesiapan BCA dalam menyediakan layanan Internet Bankingnya
antara lain :
- Mengingat bahwa celah sekuriti ini sudah tergolong lama, apakah
pihak klikBCA sudah mempertimbangkannya sebelum meluncurkan layanan
Internet Bankingnya ? Termasuk juga celah-celah sekuriti lainnya yang
pernah terjadi pada layanan sejenis di negara lain.
- Bila sudah mempertimbangkannya mengapa tidak ada tindakan
pencegahan, misal mendeteksi situs sejenis, atau memberi peringatan yang
jelas kepada pengguna. Sebagai analogi, seorang yang naik pesawat
terbang, selalu mendapat penjelasan ditail dari pramugari, mengenai
pemakaian peralatan darurat, dan ini harus selalu dilakukan.
- Apabila klikBCA belum mempertimbangkan celah sekuriti tentunya
menjadi pertanyaan, apakah sudah ditugaskannya seorang isecurity
officer yang melakukan hal ini, dan bagaimana proses persiapan
layanan tersebut. Dalam mendisain layanan Internet bankingnya apakah
masalah pengguna ini sudah dipertimbangkan ?
- Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, misalnya
transaksi palsu, apakah klikBCA sudah menyiapkan mekanisme log yang dapat
dipertanggung-jawabkan (termasuk menggunakan digital signature, yang
ditanda-tangani 2 pihak terpisah). Dan bagaimana dengan mekanisme
pengamanan log tersebut serta masalah backup-nya.
- Pertanyaan lainnya adalah bagaimana tindakan edukasi pengguna
yang telah dilakukan oleh pihak BCA kepada para pengguna Internet banking
ini. Memberikan pelatihan singkat dengan demonstrasi langsung (mungkin
sekitar 1 jam) kepada pengguna akan sangat mencegah terjadinya kasus di
atas. Hal ini berkaitan dengan mengedukasi pengguna terhadap masalah
keamanan.
- Seandainya telah terjadi kasus seperti yang terjadi pada KlikBCA,
siapa yang bertanggung jawab ? Bagaimana bila konsumen telah dirugikan,
bagaimana mekanisme penyelesaiannya?
Memang kasus klikBCA semu tersebut sebetulnya bisa dicegah (walau memang
belum tentu dihilangkan) misal secara teknis :
- Memeriksa URL referer dan memberikan feedback kepada user secara
jelas-jelas mengenai situs yang sedang diakses.
- Melakukan proses tanya jawab beberapa kali sebelum login ke situs
sesungguhnya.
- Dipasangnya suatu program yang secara rutin mencari domain salah typo
ini. Program ini relatif mudah dibuat, dan mudah sekali
diimplementasikan. Setiap dideteksi suatu kemungkinan baru, maka pada
halaman situs Internet banking dan kepada pengguna diberikan "alert".
- Menggunakan teknologi lain misal HBCI, ataupun sistem otentikasi lainnya.
- Early alert detection dengan cara dekat ke komunitas TI Indonesia.
- Membatasi client koneksi ke sembarang host.
- Meminta user untuk mem-bookmark situs resminya.
Sehubungan dengan masih mudanya usia perkembangan
Internet, tetapi telah makin bernafsunya pihak bisnis untuk
memanfaatkannya, sudah sepantasnya bila tanggung jawab pengguna dan
perlindungan konsumen dipertimbangkan juga. Jangan hanya mencari kambing
hitam pada suatu permasalahan, karena pada akhirnya konsumenlah yang
selalu menerima akibat buruknya.
Sebagai penutup penulis mencoba mengemukakan 2 jenis skenario ancaman
sekuriti yang mungkin saja terjadi pada dunia Internet Bank. Sebagian
dari ancaman ini telah timbul, dan tidak tertutup kemungkinan akan
terjadi di Indonesia. Tulisan ini mencoba mengangkat masalah ini
sehingga pengguna, dan pihak bank menjadi waspada.
Sebagai penutup saya mencoba memberikan suatu bayangan akan kemungkinan
terjadinya celah sekuriti lainnya. Mohon penjelasan ini jangan dianggap
sebagai hal untuk menakut-nakuti. Beberapa hal di bawah ini memanfaatkan
kelemahan sistem operasi client dan penggunaan plug-in.
Skenario 1
Skenario ini mirip dengan teknik
typo pirates tetapi yang berbeda adalah situs tersebut tak
melakukan pengambilan atau pengumpulan PIN. Cara yang ditempuh :
- Suatu situs mirip dibangun dengan nama yang mirip artinya akan
memanfaatkan typo pirates tersebut.
- Pada script tersebut tak perlu dilakukan pengambilan PIN, tetapi
memaksa user memasang plug-innya. Sebagian besar Internet bank, meminta
user memasang plug-in tertentu dengan alasan agar sistem lebih aman.
Sehingga dengan sedikit trick social engineering, maka user menjadi
tertarik untuk memasang plug-in.
- Karena plug-in bekerja di tingkat sistem, maka dapat leluasan,
menangkap apa yang diketikkan oleh pengguna. Setiap kali pengguna
memasukkan username/password, di situs tertentu (Internet Bank) misalnya
maka plug-in ini akan mencatat. Atau mengirimkannya langsung ke alamat
tertentu di Internet.
- Pengiriman ke alamat tertentu ini dapat memanfaatkan trick pengiriman
melalui URL, Misal dengan http://situs-jahat.com?usernama=xxx
. Atau dapat juga dikirimkan melalui media mail ke alamat tertentu.
- Bila telah melewati batas tertentu, maka plug-in tersebut melakukan
proses penghapusan sendiri.
Skenario di atas jelas memanfaatkan kelemahan pengguna,
serta memanfaatkan kebutuhan instalasi plug-in. Untuk itu sudah saatnya
penyedia jasa Internet banking perlu mempertimbangkan bagaimana mekanisme
instalasi plug-in yang aman. Memasang plug-in melalui media Internet
dapat memberikan celah sekuriti.
Skenario 2
Skenario ini memanfaatkan kerentanan suatu mail reader, ataupun sistem
operasi terhadap virus. Penjelasan berikut ini bukan ingin menakut-nakuti
pengguna sistem operasi tertentu, tetapi meminta kewaspadaan (good
practice) dan penggunaan utilitas untuk meminimalkan bahaya
tersebut. Jalannya skenario adalah sebagai berikut :
- Suatu macro virus dapat dimanfaatkan untuk memasukkan code yang akan
memasang suatu plug-in. Karena plug-in ini terlalu besar untuk dibawa
dalam badan virus. Maka virus hanya berisi program yang akan menyebabkan
mendownload suatu plug-in dari situs tertentu di Internet ketika pengguna
sedang online. Agar lebih sulit dideteksi, bisa saja plug-in ini
diperoleh bukannya dari suatu situs, tetapi melalu suatu
newsgroup. Teknik semacam ini telah digunakan oleh virus Hybris
(Edwards, 2001).
- Plugin ini pada dasarnya melakukan hal yang sama seperti menyadap
user/password, mencatat digital signature, dan lain sebagainya. Yang lalu
dikirimkan pada suatu alamat. Berita tentang suatu troyan horse
yang telah dapat memanipulasi digital signature, seperti yang diberitakan
situs HEISE
http://www.heise.de/newsticker/data/js-11.06.01-000/, tentunya
menunjukkannya adanya kemungkinan ini.
- Setelah menginfeksi seseoerang, dengan membaca pada address book,
maka si virus dapat menyebar ke pengguna lain di Internet dan melakukan
hal yang sama.
Mudah-mudahan dengan 2 skenario sederhana di atas, penyelenggara Internet
Bank di Indonesia semakin waspada, dan menyiapkan antisipasi serta
sosialisasi lebih baik. Begitu juga para pengguna Internet lebih
hati-hati dalam mengggunakan jasa Internet Banking.
Referensi
Penulis memberikan referensi di bawah
ini, agar bagi pembaca yang tertarik membaca lebih ditail dapat mencari
informasi tersebut.
- Abadi, Martin, (1996) Prudent engineering practice for cryptography
protocols. IEEE Transactions on Software Engineering. vol 22
(1), Januari 1996 hlm, 7-18.
- Adams, Anne dan Martina Angela Sasse (1999). Users are not the
enemy. Communication of the ACM. Desember 1999, vol 42 (12).
hlm.41-45.
- Bellovin, Steven M. (1995). Using the Domain Name System for
Sytem Break-ins. Proceedings of the Fifth Usenix UNIX Security
Symposium, Hune, Salt Lake City. Tersedia di ftp://ftp.research.att.com
- Butler, Randy, Von Welch, Douglas Engert, Ian Foster, Steven
Tuecke, John Volmer, Carl Kesselman (2000). A national scale
authentication infrastructure. IEEE Computer, Desember 2000. hlm.
60-64.
- Cybenko, George, Guofei Jiang (2000). Developing a distributed
system for infrastructure protection. IT Pro, July/Agustus 299
hlm. 17 - 22.
- Computerzeitung, Interview Dirk Henz-BSI : Opensource ist positiv.
Nr. 22/31 Mei 2001.
- Edwards, John (2001). Next-generation viruses present new
chanllenges, IEEE Computer, May 2001, hlm. 16-18.
- Felten, Edward W, Dirk Balfans, Drew Dean, Dan S
Wallach (1997). Web Spoofing : An Internet Con Came. Technical Report
540-96. Department of Computer Science, Princeton University
- Madsen, Mark, Andrew Herbert (1997). A guide to secure electronic
bussiness using the E2S architecture. Web Security : A matter of
trust. OReilly.
- Michener, John (1999). System Insecurity in the Internet Age.
IEEE Software, July/August 1999, hlm 62-68.
- Schneier, Bruce (2000). Secrets & Lies. John Willey and Sons.
- Wiryana, I Made, Avinanta Tarigan (2000). Public Key
Infrastructure dan Open Source. Seminar : Secure your Future.
Tersedia di
http://pandu.dhs.org/Security/artikel-01
Penulis
*) I Made Wiryana, dosen tetap Universitas Gunadarma, sedang melanjutkan
studi doktoral di RVS Arbeitsgruppe - Universitas Bielefeld Jerman.
**) Tedi Heriyanto, software developer. Email : tedi_h@gmx.net