Resiko Internet Banking telah tampak

I Made Wiryana *) dan Tedi Heriyanto **)

Dalam perkembangannya yang pesat seringkali Internet menyebabkan beberapa dampak negatif kepada penggunanya. Kejadian "klikBCA" semu yang baru saja terjadi menyadarkan para pengguna Internet banking di Indonesia akan hal ini. Saat ini, waktu antara diperkenalkannya suatu teknologi dengan penggunaannya secara massal relatif sangat singkat. Di tambah lagi perusahaan yang tadinya tak pernah menggunakan perangkat lunak tertentu, sekarang menjadi bergantung pada perangkat lunak tersebut.

Seringkali kita menerima keuntungan ekonomis atau lainnya dari TI (Teknologi Informasi), tetapi lupa mempertimbangkan analisis cost-risk-benefit secara komprehensif. Pertimbangan resiko seringkali dilakukan setelah timbulnya kejadian atau munculnya kerugian. Kecenderungan menutupi kejadian seringkali malah menyebabkan kurang adanya edukasi pada pengguna. Perilaku yang menganggap penanganan masalah sekuriti hanyalah bagian dari Public Relation (PR) sebaiknya perlu ditinggalkan. Karena hal tersebut sangat merugikan kustomer.

Semakin kompleks dan saling terhubungnya antar bagian dalam sistem, menjadikan sistem makin sulit untuk dijamin keamanannya. Sekuriti adalah suatu proses, bukan produk. Sebagai proses maka sekuriti itu memiliki banyak komponen. Sekuriti juga seperti rantai yang terdiri dari banyak mata rantai. Seperti halnya rantai, maka kekuatan sistem setara dengan kekuatan dari mata rantai yang terlemah. Pada kasus KlikBCA ada dua hal yang menjadi rantai terlemah dari sistem yang terserang, yaitu ketak-pedulian user, dan kekurang-tanggapan BCA. Dua kelemahan ini menjadikan komponen relatif lebih kuat (misal 128-bit SSL) menjadi hilang artinya.

Tulisan ini akan menerangkan secara sekilas resiko dan kemungkinan yang ada dalam Internet bank. Penulis tidak bermaksud menakut-nakuti tetapi mencoba mengedukasi pengguna karena informasi dari pemberi layanan Internet banking di Indonesia relatif sangatlah terbatas. Beberapa hal sengaja tidak dijelaskan secara rinci, tetapi pada bagian akhir tulisan diberikan daftar referensi untuk memudahkan bagi yang ingin mendalami hal ini. Pada bagian akhir akan diberikan skenario ancaman lainnya, bukan maksud penulis untuk menakut-nakuti hanya sekedar memberikan peringatan kepada para pembaca.

Kekuatan dan kelemahan Secure Socket Layer

Sebagian besar penyelenggara Internet banking di Indonesia mengklaim menggunakan teknologi Secure Socket Layer (SSL) untuk menjamin keamanan layanan mereka. Jaminan SSL 128 bit inilah yang sering digunakan dalam iklan dan dalam meyakinkan kustomer. Kata-kata lainnya yang sering digunakan dalam menjamin keamanan para pengguna adalah penggunaan firewall, Public Key Infrastructure dan Encryption Accelerator Card. Pendekatan keterbukaan belum menjadi suatu tradisi pada Internet Banking di Indonesia. Sehingga penjelasan sekuriti relatif masih berfungsi sebagai PR belaka.

Sayangnya seringkali informasi yang diterima pengguna kuranglah lengkap mengenai apa yang diamankan oleh SSL ini. Begitu juga dengan firewall kurang dijelaskan apa yang diamankan oleh firewall ini. Hal ini mengakibatkan munculnya, pemahaman akan adanya jaminan keamanan semu dalam benak pengguna. Pengguna sering memiliki anggapan karena sudah memakai SSL maka pasti koneksi yang dilakukannya aman, tak ada masalah sekuriti yang bisa timbul. Hal ini juga dididorong oleh informasi yang kurang lengkap dari penyedia jasa Internet Banking.

SSL (Secure Socket Layer) pada dasarnya merupakan suatu mekanisme yang melindungi koneksi dari usaha penyadapan. Hal ini karena komunikasi yang terjadi antara client-server melalui suatu jalur yang dienkripsi. Tetapi sistem ini tidak melindungi dari salah masuknya pengguna ke host yang berbahaya, ataupun tak melindungi apakah suatu kode yang didownload dari suatu situs bisa dipercaya, atau apakah suatu situs itu bisa dipercaya. Abadi (1996) telah menunjukkan kelemahan protokol SSL versi awal secara teoritis. Jadi jelas SSL ini tidak melindungi dari beberapa hal misal (detail dari tiap ancaman ini tidak dibahas pada tulisan ini):

Pada model SSL, user-lah yang harus bertanggung jawab untuk memastikan apakah server di ujung sana yang ingin diajak berkomunikasi benar-benar merupakan server yang ingin dituju. Pada dunia nyata untuk meyakinkan bahwa orang yang dihubungi adalah orang sesungguhnya, dapat dilakukan dengan mudah karena orang saling mengenal. Dengan melihat muka, suara, bau dan sebagainya kita bisa mendeteksi bahwa dia orang yang sesungguhnya.

Pada dunia Internet hal seperti itu sulit dilakukan, oleh karenanya digunakan sertifikat digital untuk melakukan hal ini. Sertifikat ini mengikat antara suatu public key dengan suatu identitas. Sertifikat ini dikeluarkan oleh sebuah pihak yang disebut CA (Certificate Authority) misal dalam hal ini Verisign atau Thawte. CA sendiri memperoleh sertifikat dari CA lainnya. CA yang tertinggi disebut root dan tidak memerlukan sertifikat dari CA lainnya. Penanganan sertifikat ini dilakukan secara hierarki dan terdistribusi.

Sayangnya sertifikat digital saja, bukanlah obat mujarab yang bisa mengobati semua jenis permasalahan sekuriti. Agar SSL dapat bekerja dengan semestinya (melakukan koneksi terenkripsi dengan pihak yang semestinya), maka penggunalah yang harus memverifikasi apakah sertifikat yang dimiliki oleh server yang ditujunya adalah benar. Berikut ini adalah beberapa hal minimal harus diperhatikan :

Sayangnya banyak orang tak peduli terhadap permasalahan di atas. Sebetulnya ketika melakukan koneksi ke sebuah situs yang mendukung SSL, hal tersebut ditanyakan oleh browser, tetapi sebagian besar pengguna selalu menekan Yes ketika ditanya untuk verifikasi sertifikat ini. Untuk melihat ketiga hal tersebut, dapat dilakukan dengan double-click pada tombol kunci yang ada di bagian kiri bawah browser.

Begitu juga dengan keterangan 128-bit SSL. Seringkali tanpa dilengkapi dengan penjelasan semestinya apa maksud 128-bit ini, dan apa kaitannya dengan PIN pengguna, ataupun hal lainnya. Masih banyak perusahaan yang mengambil mentah-mentah keyakinan akan keamanan SSL ini tanpa mencoba memahami atau menerangkan keterbatasan SSL dalam melakukan perlindungan. Sebagai dampaknya pengguna menjadi tak peduli terhadap ditail mekanisme transaksi yang dilakukannya.

Dengan memanfaatkan kekurang-waspadaan pengguna dapat timbul beberapa masalah sekuriti. Berikut ini adalah celah sekuriti dalam penggunaan SSL yang diakibatkan oleh server si penyerang di luar server asli. Celah seperti ini relatif sulit dideteksi dan dijejaki tanpa adanya tindakan aktif, karena terjadi di server lain. Celah ini pada dasarnya dilakukan dengan cara mengalihkan akses user dari situs aslinya ke situs palsu lainnya, sehingga dikenal dengan istilah page hijacking. Beberapa kemungkinan teknik yang digunakan untuk melakukan hal ini adalah :

Trik-trik di atas sebagian besar memanfaatkan kelengahan pengguna, atau keawaman pengguna. Dalam mendisain sistem maka perlu diperhatikan kelengahan pengguna ini. Baik kesalahan dia mengetik nama situs, dan lain-lainnya. Untuk itu sudah sepantasnya pemahaman tentang user Indonesia perlu dilakukan lebih dalam sebelum dilakukan perancangan sistem ini.

Begitu juga dengan produk firewall, sering kali banyak jaminan semu yang diberikan penyedia jasa Internet banking dengan mengatakan bahwa sistem akan aman, karena menggunakan firewall merek tertentu. Jaminan ini tidak bicara apa-apa. begitu juga dengan card encryption accelerator. Sebab pada hakikatnya pernyataan aman memiliki rentang pembicaraan. Sehingga lebih tepat disebutkan aman ketika melakukan hal apa, aman terhadap apa atau aman terhadap siapa. Bahkan ada keterangan yang mengatakan bahwa firewall berkaitan dengan otorisasi login dari seseorang pengguna. Jelas keterangan ini akan menyesatkan pengguna. Sudah saatnya penyedia jasa layanan Internet Bank, memberikan informasi yang lebih tepat.

Disain sistem dari sisi user

Orang/pengguna merupakan sisi terlemah dari sekuriti. Mereka tak memahami komputer, mereka percaya apa yang disebutkan komputer. Mereka tak memahami resiko. Mereka tak mengetahui ancaman yang ada. Orang menginginkan sistem yang aman tetapi mereka tak mau melihat bagaimana kerja sistem tersebut. Pengguna tak memiliki ide, apakah situs yang dimasukinya situs yang bisa dipercaya atau tidak.

Salah satu permasalahan utama dengan user di sisi sekuriti, adalah akibat komunikasi atau penjelasan yang kurang memadai pada user dan disain yang kurang berpusat pada user yang mengakibatkan lemahnya sekuriti (Adams dan Sasse, 1999). User seringkali tak menerima penjelasan yang cukup, sehingga mereka membuat atau mereka-reka sendiri resiko atau model sekuriti yang terjadi. Seringkali ini menimbulkan pengabaian dan mengakibatkan kelemahan sekuriti.

Di samping itu, akibat pengabaian para pendisain sistem terhadap perilaku user dalam berinteraksi terhadap sistem, maka timbul kesalahan misalnya adanya pengetatan yang tak perlu, yang malah mengakibatkan user mengabaikan pengetatan itu. Atau penyesuaian kecil yang seharusnya bisa dilakukan untuk menambah keamanan, tetapi tak dilakukan. Sebagai contoh layout page tidak pernah mempertimbangkan sisi sekuriti, ataupun belum ada desain layout yang meningkatkan kewaspadaan pengguna akan keamanan. Disan halaman Web lebih ditekankan pada sisi estetika belaka. Untuk itu sebaiknya dalam disain sistem, user diasumsikan sebagai pihak yang memiliki kewaspadaan terendah, yang mudah melakukan kesalahan. Artinya pihak perancanglah yang mencoba menutupi, atau memaksa si user menjadi waspada.

Penyedia jasa sangat perlu memberikan keterangan tentang mekanisme sekuriti termasuk resiko dan langkah yang perlu diperhatikan, termasuk juga ancaman yang dapat membuat lemahnya sistem sekuriti. Komunikasi antar pengguna dan pembuat sistem menjadi sangat penting. Seperti yang diungkapkan oleh Dirk Henze dari BSI (Bundesamt für Sicherheit in der Informationstechnik) pada Computerzeitung, solusi teknik bukanlah satu-satunya yang perlu diperhatikan, penjelasan ke pengguna sangat dibutuhkan. Pengguna perlu diingatkan akan resiko dan situasi yang perlu diperhatikan ketika melakukan transaksi melalui Internet. Solusi teknis dan penjelasan kepada user merupakan suatu kesatuan yang tak bisa diabaikan.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan oleh penyedia layanan dalam merancang sistem yang berkaitan dengan sisi pengguna adalah :

Selain penyedia jasa, pengguna juga harus lebih waspada misalnya dengan melakukan beberapa hal berikut ini :

Beberapa langkah praktis di situs http://salma.haryan.to/tips-ibank.html menjelaskan cukup ditail langkah-langkah yang harus diamati pengguna ketika melakukan koneksi ke BCA. Sayang sekali informasi ditail seperti ini malah disediakan pihak lain, bukan pihak penyedia jasa, dalam hal ini klikBCA.

Prinsip disain teknologi

Tampaknya sudah saatnya para penyedia layanan Internet Banking meninjau kembali prinsip disain sistem sekuriti yang telah dipublikasikan oleh Jerome Saltzer dan MD. Schroeder sejak tahun 1975.

Disain Otentifikasi

Dari sisi otentifikasi, disain sistem yang mengakibatkan dikirimnya password oleh user sebaiknya dihindari. Sistem dengan user-PIN sebagai password memiliki kelemahan pada sistem seperti Web, karena model ini lebih cocok untuk sistem dengan manual interface, seperti pada ATM (Automated Teller Machine). Penggunaan Transaction Number (TAN) seharusnya juga diterapkan bila sistem hanya menggunakan SSL saja. Untuk lebih amannya lagi dapat digunakan metoda sertifikat secara software, sertifikat dengan smart card, dan sertifkat dengan biometri. Teknologi tersebut telah ada dan dapat dimanfaatkan.

Teknologi semacam Home Banking Computer Interface [http://www.hbci.de] menggunakan teknologi yang tak hanya bersandarkan pada SSL atau hanya terbatas pada koneksi menggunakan TCP/IP. Perkembangan model E2S untuk B2B (Business to Business) di Eropa. (Madsen, 1997) yang memanfaatkan smart card juga perlu dipertimbangkan. Teknologi semacam Secure Request Technology (SRT), yang dikembangkan oleh Brokat GmbH [http://www.brokat.de] sejak 1997 dan merupakan bagian dari paket XPRESSO Security Packet yang menggunakan Java, dapat digunakan untuk mempertinggi faktor keamanan. Sedangkan bila ingin memanfaatkan perangkat keras tambahan, teknologi semacam MeCHIP dari EDS GmbH [http://www.eds.de] yang telah dikembangkan sejak 1996-an telah dapat digunakan.

Panduan Penyelenggaraan Internet Banking

Dalam menyediakan layanan Internet banking, penyedia layanan sebaiknya mengikuti panduan yang biasanya dapat diimplementasikan dengan mengikuti sistem sertifikasi keamanan, dan juga mengikuti model sekuriti tertentu. Sistem yang memberikan fasilitas transaksi seperti transfer keuangan, credit dan debit card, harus memiliki kemampuan untuk memulihkan kesalahan bila terjadi kesalahan. Beberapa ini adalah beberapa persyaratan minimum yang harus dipenuhi :

Sistem yang menyediakan fasilitas transaksi yang dapat dijejaki di atas, untuk standard USA rata-rata berada di antara B2, dan B3 atau E4 untuk standard Jerman. Untuk anonymous transaction harus menggunakan sistem yang disertifikasi A1 (US) atau E6 (Jerman). Sistem yang menyediakan fasilitas di atas harus memiliki sistem operasi dengan model multilevel security system. Biasanya sekitar B1, atau E3 (untuk standard Eropa). Di Jerman peraturan menuntut pihak yang menjalankan Public Key Certificate Authority harus dijalankan pada sistem dengan evaluasi minimal E4. Untuk informasi lebih lengkap mengenai standard security ini dapat dilihat situs Trusted Product Evalution Program [ http://www.radium.ncsc.mil/tpep/tpep.html].

Dalam kegiatannya, jika penyedia layanan Internet banking ingin memberikan layanan dengan baik, maka sudah saatnya menerapkan 6 langkah proses proteksi infrastruktur informasi yang meliputi (Cybenko dan Jiang, 2000)

  1. Intelligence, dilakukan oleh Early warning system yang terdiri dari :
  2. Threat assesment. dilakukan dengan simulasi, cost-benefit analysis terhadap threat.
  3. Interdiction, dilakukan dengan beragam tool dan protocol, virus scanner, dan lain-lain :
  4. Detection, dengan teknik data mining
  5. Response, : dengan teknik forensics, mitigation
  6. Recovery : dengan auditing. Seringkali security secara teknis digital menjadi segala-galanya dan melupakan audit. Untuk informasi sensitif (misal log file, password file dan sebagainya), diterapkan mekanisme two-person ruleyaitu harus minimum 2 orang yang terpisah dan berkualifikasi dapat melakukan perubahan.

Dengan mekanisme di atas, maka si pemberi layanan semestinya menerapkan prinsip Protect-Detect-React. Jangan hanya bersikap menanti hingga ada kasus terjadi. Harus secara terus menerus mengamati informasi, baik melalui jalur hotline, mailing list, forum diskusi dan lain sebagainya. Dengan beraninya menawarkan layanan Internet banking, maka sudah sewajarnya bila penyedia jasa melakukan hal tersebut sebagai suatu bagian dari kegiatan rutin.

Perlindungan konsumen

Tampaknya pendekatan yang dilakukan selama ini yang cenderung mengabaikan faktor-faktor kecil sudah harus ditinggalkan. Peningkatan Internet Banking di Indonesia belum dibarengi dengan usaha dari penyedia layanan untuk mendukung beberapa hal. Karena hal tersebut sepertinya tak terkait. Kegiatan tersebut antara lain :

Sudah saatnya perlindungan konsumen pada produk TI mendapat perhatian. Pelaporan mengenai buruknya suatu produk, jangan dianggap sebagai hal yang negatif. Pemberian informasi sejelas-jelasnya dan yang tepat harus makin diutamakan. Jangan malah pihak pemberi layanan memanfaatkan keluguan para pengguna hanya untuk menimbulkan dampak marketing.

Bila ada laporan mengenai celah sekuriti (baik di server sendiri, ataupun pada mekanisme keseluruhan). Sebaiknya segera ditanggapi. Begitu juga komentar atau pernyataan di mailing-list perlu diamati dan ditanggapi. Jadi pendekatan secara aktif perlu dilakukan ketimbang secara pasif. Banyak perusahaan mempertimbangkan masalah ini hanya bagian dari masalah PR. Seringkali orang tak memiliki pilihan lain selain melaporkan ke umum. Ekspose buruk dari pers seringkali menyebabkan kerugian yang jauh lebih besar daripada nilai kerugian itu sendiri. Untuk itu sudah saatnya perusahaan penyedia jasa layanan Internet banking, cukup tanggap terhadap pertanyaan dan komentar mengenai layanannya.

Dari sisi para pengamat sekuriti, memang seringkali ditempatkan pada situasi yang dilematis. Seringkali pelaporan celah keamanan ditanggapi dengan tidak semestinya, hingga ditunjukkannya suatu bukti yang lebih jauh lagi. Sehingga sering pelapor dianggap kriminal. Padahal kriminal biasanya hanya menyerang sistem karena ada keuntungan, pencari publisitas akan menyerang sistem bila ada kesempatan pers akan mengekspose.

Untuk itu, proses pemberian peringatan dapat menggunakan beberapa panduan antara lain :

Timbulnya kasus KlikBCA semu memunculkan pertanyaan terhadap kesiapan BCA dalam menyediakan layanan Internet Bankingnya antara lain :

Memang kasus klikBCA semu tersebut sebetulnya bisa dicegah (walau memang belum tentu dihilangkan) misal secara teknis :

Sehubungan dengan masih mudanya usia perkembangan Internet, tetapi telah makin bernafsunya pihak bisnis untuk memanfaatkannya, sudah sepantasnya bila tanggung jawab pengguna dan perlindungan konsumen dipertimbangkan juga. Jangan hanya mencari kambing hitam pada suatu permasalahan, karena pada akhirnya konsumenlah yang selalu menerima akibat buruknya.

Sebagai penutup penulis mencoba mengemukakan 2 jenis skenario ancaman sekuriti yang mungkin saja terjadi pada dunia Internet Bank. Sebagian dari ancaman ini telah timbul, dan tidak tertutup kemungkinan akan terjadi di Indonesia. Tulisan ini mencoba mengangkat masalah ini sehingga pengguna, dan pihak bank menjadi waspada.

Sebagai penutup saya mencoba memberikan suatu bayangan akan kemungkinan terjadinya celah sekuriti lainnya. Mohon penjelasan ini jangan dianggap sebagai hal untuk menakut-nakuti. Beberapa hal di bawah ini memanfaatkan kelemahan sistem operasi client dan penggunaan plug-in.

Skenario 1

Skenario ini mirip dengan teknik typo pirates tetapi yang berbeda adalah situs tersebut tak melakukan pengambilan atau pengumpulan PIN. Cara yang ditempuh :

Skenario di atas jelas memanfaatkan kelemahan pengguna, serta memanfaatkan kebutuhan instalasi plug-in. Untuk itu sudah saatnya penyedia jasa Internet banking perlu mempertimbangkan bagaimana mekanisme instalasi plug-in yang aman. Memasang plug-in melalui media Internet dapat memberikan celah sekuriti.

Skenario 2

Skenario ini memanfaatkan kerentanan suatu mail reader, ataupun sistem operasi terhadap virus. Penjelasan berikut ini bukan ingin menakut-nakuti pengguna sistem operasi tertentu, tetapi meminta kewaspadaan (good practice) dan penggunaan utilitas untuk meminimalkan bahaya tersebut. Jalannya skenario adalah sebagai berikut :

Mudah-mudahan dengan 2 skenario sederhana di atas, penyelenggara Internet Bank di Indonesia semakin waspada, dan menyiapkan antisipasi serta sosialisasi lebih baik. Begitu juga para pengguna Internet lebih hati-hati dalam mengggunakan jasa Internet Banking.

Referensi

Penulis memberikan referensi di bawah ini, agar bagi pembaca yang tertarik membaca lebih ditail dapat mencari informasi tersebut.

Penulis

*) I Made Wiryana, dosen tetap Universitas Gunadarma, sedang melanjutkan studi doktoral di RVS Arbeitsgruppe - Universitas Bielefeld Jerman.

**) Tedi Heriyanto, software developer. Email : tedi_h@gmx.net