Hari Rabu 31 Juli 2002, saya berkesempatan mengunjungi Indosoft (Indonesia Software Expo) 2002 di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC) yang berlangsung hingga tanggal 4 Agustus 2002. Pada kesempatan tersebut saya ditemani oleh dua orang hacker terkemuka dalam dunia Linux Indonesia yaitu Hendri 'Cacem' dan koko (WUP).
Kami mulai menginjakkan kaki di Indosoft sejak pukul 16.00 WIB, karena sebelumnya mengembara dulu di Mangga Dua melihat-lihat komputer, notebook, CD bajakan, dan buku bajakan. Saya sempat membaca-baca beberapa buah buku bajakan, sayang tidak membelinya karena bingung bawanya nanti, berat sekali.
Kembali ke Indosoft, sesaat setelah melangkah memasuki pintu Hall A JHCC, tempat Indosoft berlangsung, kami langsung disambut dengan banyaknya stan yang berjualan hardware komputer, handphone ( Saya ada pengalaman menarik tentang penjaga di salah satu stan handphone merek terkenal, tapi ini tidak dapat diceritakan. :)). Seketika kami bagai tersambar petir, karena hal ini sangat berbeda dengan persepsi kami sebelumnya, bahwa Indosoft itu hanya jualan software, tapi kenyataannya "juga jualan hardware". Setelah berjalan beberapa saat dan mengamati "pemandangan indah" yang ada di sekeliling, panggilan alam pun segera memanggil sehingga saya harus segera mencari toilet yang letaknya ada di pojok terpencil. Sayang sekali, di tempat yang berkelas semacam JHCC sekalipun ternyata fasilitasnya masih juga kurang dipelihara dengan baik, ada beberapa kran yang tidak dapat mengeluarkan air, closet yang tidak dapat digunakan, bau "kurang sedap" di dalam toilet.
Lima menit kemudian, kami pun segera bergegas memasuki ruang utama Hall A JHCC. Di sepanjang jalan, terlihat beberapa stan yang menjual CD software bajakan, kami tahu karena harganya dipasang di stannya, yaitu Rp 20.000. Ironisnya di atas stan-stan tersebut terpasang banner dengan tulisan Indonesia Software Expo 2002, mungkin perlu diganti dengan tulisan Indonesia Pirated Software Expo 2002.
Stan pertama yang kami kunjungi adalah stan produsen LCD, salah satu alasannya adalah para penjaganya (SPG, Sales Promotion Girl) yang terlihat sangat menarik, sayang mereka tidak memberikan penjelasan kepada kami, mungkin mereka mengira kami tidak akan mampu membeli produk tersebut karena pada saat itu memang pakaian kami "seadanya", saya sendiri memakai sandal dan kaos yang agak acak-acakan, karena bahannya memang seperti itu. Di stan tersebut kami mencoba-coba memeriksa radiasi yang dikeluarkan oleh LCD, mengamati tampilannya yang kurang memuaskan karena flicker alias "bergoyang-goyang".
Setelah selesai memeriksa radiasi LCD, kami pun berjalan lebih lanjut. Sepanjang perjalanan kami mendapatkan suvenir berupa kertas-kertas price list, ada yang bagus dan ada yang jelek tampilannya. Untung saja saat itu saya tidak membawa komputer, kalau tidak sudah saya kirimkan ke /dev/null.
Stan berikutnya yang mendapatkan musibah kedatangan kami adalah stan produsen kamera dijital/fax modem/scanner yang berasal dari Taiwan. Di stan ini terdapat banyak sekali penjaganya, mungkin sekitar 5-7 orang, yang semuanya berwajah menarik (menurut saya lho). Kami bertanya banyak sekali di tempat ini, hingga meminta penjaganya mendemonstrasikan penggunaan kamera dijital untuk memfoto satu lembar kertas price list hingga semua isinya terlihat. Kualitas yang dihasilkan cukup lumayan dengan resolusi maksimal 640x480. Salah satu hal yang menyebabkan saya mengurungkan niat untuk membelinya adalah tidak disertakannya driver serta software untuk platform Linux, meskipun bonus yang diiming-imingi cukup menggiurkan, salah satunya adalah mendapat jam tangan dan foto dengan para penjaganya (yang ini tidak cuma angan-angan pembeli saja). Mungkin nanti setelah mencari-cari informasi tentang produk ini di Internet, khususnya apakah ada kendala bila digunakan di Linux, saya akan mempertimbangkan pembeliannya, lumayan buat hobi memotret.
Beberapa stan yang kami lalui tidak cukup menarik perhatian kami untuk berhenti hingga kami memasuki satu ruangan lainnya. Ternyata kami baru menyadari bahwa ruang yang pertama kami masuki, memang dikhususkan untuk produk hardware, sedangkan ruang yang baru kami masuki dikhususkan untuk produk software. Maklumlah informasinya tidak ada, atau bila adapun tidak jelas ada di mana.
Sejak kaki pertama kami masuk ke ruangan ini, "gelagat" acara ini disponsori oleh Microsoft sudah tercium dan terlihat. Tulisan-tulisan Microsoft terpampang di mana-mana sejauh mata memandang.
Saya berusaha mencari dokumentasi teknis tentang dot NET namun ternyata tidak ada walaupun sudah mencari ke sana ke mari. Satu hal menarik dan membuat kami geli adalah ketika kami mengunjungi stan yang menjual software orisinal buatan Microsoft, di antaranya ada Visual C++ untuk dot NET dan banyak lagi saya lupa, karena memang tidak paham dan tidak berminat membelinya, harganya paling murah USD 2000, aje gile, mendingan duit segitu dipake beli notebook. Si penjual berceloteh tentang kehebatan produk-produk dagangannya. Dengan santainya, Koko menanyakan "bagaimana dengan keamanan produk-produk tersebut". Dengan serta merta si penjual langsung menjawab "produk-produk ini sangat dapat diandalkan keamanannya". Untung saja kami masih bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak di depan si penjualnya menanggapi "bualannya" tersebut. Lalu Koko melanjutkan pertanyaan "gilanya" yaitu "Apakah kita perlu menggunakan firewall bersama-sama dengan produk-produk ini?". Lagi, dengan sigapnya si penjual menjawab "Ya, kami tidak menganjurkan penggunaan produk-produk ini tanpa firewall". (He...he...he..aje gile, apa gak kontradiksi tuh omongannya.) Lalu dia bercerita bahwa firewall itu mesti ada di setiap komputer, karena Windows XP sudah menyertakannya, jadi user tidak perlu beli software tambahan lagi. (Dia masih kagak sadar bahwa tiga orang yang ada di hadapannya tidak menggunakan Windows XP..he..he..karena gak sanggup beli softwarenya).
Sebelum ke stan penjual produk Microsoft, kami juga sempat berkunjung ke stan penjual produk modem GPRS dan mencoba-coba untuk melakukan browsing ke LinuxToday. Produknya cukup menganggumkan, sayang produk ini masih terlalu mahal dan memiliki ketidakpastian di masa depannya karena ia menggunakan GPRS yang disediakan oleh IM3, yang saat ini masih gratis, namun tidak dapat dipastikan kapan hal tersebut masih berlaku, maklumlah perusahaan penyedia layanan IM3, masih tampak seperti perusahaan misterius bagi masyarakat. :)
Kami juga sempat berkunjung ke salah satu stan yang mendemokan produk software Workflow-nya. Setelah mengamati beberapa saat, kami sadar bahwa produk tersebut sangat mudah sekali dibuat (Pada hari Jumat minggu yang sama, Cacem memberitahu saya bahwa ia sudah berhasil mengembangkan sistem workflow semacam yang ada di pameran). Ternyata konsep workflow yang dipertunjukkan di stan itu sangat disederhanakan sekali dan menjadi kurang tepat, saya baru mengetahuinya setelah membaca buku tentang workflow yang ditulis oleh seorang profesor dan seorang peneliti di Universitas Nuernberg, Jerman.
Stan Ipteknet mendapat kesempatan berikutnya dikunjungi oleh kami. Di stan ini, kami melihat-lihat aplikasi yang sedang dikembangkan oleh Ipteknet yang bernama GO-Tender, yang katanya merupakan salah satu aplikasi procurement yang dibuat oleh Ipteknet. Kami lalu mencoba melakukan klak-klik di berbagai link yang ada, ternyata tidak ada hasil. Setelah diberitahu penjaganya, kami baru "ngeh" bahwa aplikasi tersebut baru dikembangkan (atau masih dicari siapa yang ingin mengembangkannya..he..he..). Sekedar informasi saja, aplikasi tersebut dibuat dengan menggunakan ASP (Active Server Pages) dan berjalan di platform Microsoft. Kami tentu saja kemudian menanyakan kenapa tidak menggunakan WinBi yang notebene merupakan produk buatan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) yang merupakan induk Ipteknet. Jawaban yang diberikan oleh penjaganya tidak memuaskan, karena ia menjawab bahwa ia tidak mengurusi masalah WinBi (emang harus orang yang mengurusi saja yang harus menjawabnya..he..he..). Kami lalu menanyakan visi ke depan aplikasi GO-Tender, lalu ia menjawab bahwa ke depannya GO-Tender akan dibuat dengan menggunakan Java dengan database Oracle, karena Java dianggap dapat dijalankan di mana saja (hei, bukankah ASP sudah begitu, meski biasanya error kalo dijalankan dengan browser Linux). Sedangkan Oracle dipilih karena kehandalannya (mungkin mereka terpengaruh oleh statemen Larry Ellison tentang Unbreakable Oracle..he..he...atau karena Ipteknet sudah kaya sehingga mampu membeli Oracle yang Total Cost of Ownershipnya mungkin bisa dibelikan kerupuk untuk mencapai langit ketujuh. Ingat, uang tersebut adalah uang pajak macam-macam yang dipungut dari rakyat).
Berdasarkan pengamatan di Indosoft 2002, ada beberapa hal yang menjadi catatan menarik, yaitu :