Tedi Heriyanto1
8 Mei 2001 (edisi revisi)
Saat ini open source telah menjadi suatu tren dan berita besar di berbagai media massa. Berbagai perusahaan perangkat lunak besar, seperti IBM, Oracle, Sun, pun berbondong-bondong mengumumkan bahwa produk-produk yang dihasilkannya adalah produk open source. Namun demikian apakah sebenarnya open source tersebut.
Gerakan Open Source mendefinisikan bahwa open source tidak hanya sekedar kemudahan akses pada kode sumber, namun suatu software dapat disebut open source bila distribusinya memenuhi kriteria-kriteria berikut initypeset@protect @@footnote SF@gobble@opt http://www.opensource.org :
Software-software yang didistribusikan secara open source memiliki keunggulan-keunggulan utama sebagai berikut dibandingkan dengan software-software yang didistribusikan secara closed source [Ope01] :
Berikut ini adalah beberapa alasan orang membuat software open source :
Secara langsung maupun tidak, setiap orang yang menggunakan Internet sebenarnya telah menggunakan program-program open source. Hampir seluruh fungsi-fungsi utama Internet menggunakan program-program open source.
Berikut ini adalah beberapa contoh software open source :
Pengembangan software berbasiskan open source selain memberikan beberapa buah keuntungan sebagaimana yang telah disebutkan di bagian terdahulu artikel juga memiliki beberapa permasalahan sebagai berikut :
Open source tidak hanya bermanfaat bagi negara-negara maju namun justru ia dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena umumnya program-program open source tersedia dengan biaya yang relatif jauh lebih murah dibandingkan program-program closed source dan lebih handal, sehingga akan mampu menghemat devisa yang ke luar.
Secara khusus, open source pun memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, bisnis dan pemerintahan.
Dengan adanya open source maka pelajar, mahasiswa ataupun pendidik tidak lagi mempelajari sesuatu secara teoritis namun mereka pun dapat mempraktikkannya. Sebagai contoh dalam bidang ilmu komputer, pada saat mempelajari mata kuliah Sistem Operasi, maka mahasiswa dan dosen dapat secara bersama-sama mempelajarinya dengan cara mengupas secara tuntas Sistem Operasi GNU/Linux ataupun sistem operasi open source lainnya, sehingga mahasiswa dan dosen tidak hanya tahu teori, namun juga tahu penerapannya dalam dunia nyata. Kemudian dengan menginstalasi sistem operasi open source, misalnya GNU/Linux, seseorang umumnya telah memperoleh aplikasi-aplikasi yang cukup lengkap, sehingga ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membelinya.
Dengan memanfaatkan program-program open source, dunia bisnis akan memperoleh manfaat yaitu rendahnya biaya instalasi program, reliabilitas yang tinggi, keamanan yang tinggi, sehingga total cost of ownership-nya menjadi rendah. Dunia bisnis sangat memerlukan program yang bereliabilitas tinggi, karena kegiatan-kegiatan dunia bisnis telah amat tergantung pada komputer dan kesalahan kecil akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Bagaimana jadinya jika server yang digunakan untuk menangani web page harus di-reboot satu minggu sekali ?
Selain itu dengan menggunakan program-program open source maka perusahaan tidak perlu terikat pada satu vendor, baik vendor hardware maupun software. Jika perusahaan menemui permasalahan, ia dapat menghubungi pembuat program ataupun mencari perusahaan-perusahaan jasa untuk menangani masalah tersebut.
Seiring dengan makin berkibarnya tuntutan akan otonomi daerah, maka penggunaan program-program open source patut menjadi pertimbangan dalam perencanaan sistem informasi pemerintahan. Dengan menggunakan program-program open source, anggaran yang dibutuhkan relatif lebih rendah dibandingkan dengan program-program closed source dengan tingkat reliabilitas dan keamanan yang lebih tinggi. Selain itu dengan memanfaatkan program-program open source pemerintah dapat mendukung perkembangan teknologi informasi di daerahnya dan juga dapat memberikan kesempatan kerja pada masyarakat. Dengan tersedianya kode sumber maka pemerintah dapat memastikan bahwa program yang digunakannya tidak memiliki suatu backdoor ataupun trojan horse yang dapat membahayakan pemanfaatannya dalam bidang yang sensitif, seperti bidang pertahanan keamanan.
Gerakan Open Source ini perlu dicermati oleh masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat Teknologi Informasi (TI). Bahkan bila perlu, masyarakat TI Indonesia ikut serta dalam gerakan open source ini, karena gerakan ini akan semakin berkembang di masa mendatang. Dengan ikut serta dalam gerakan open source ini, akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut :
Berikut ini adalah beberapa buah proyek open source yang ada di Indonesia. Proyek-proyek tersebut ada yang sudah berjalan lama dan terbilang sukses dan ada pula yang baru berjalan.
Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan distribusi Linux SUSE, mulai dari layar bantuan instalasi hingga buku manualnya. Proyek ini dikoordinir oleh I Made Wiryana, dan sudah selesai.
Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan manual program-program UNIX. Berdasarkan informasi dari homepagenya, 90% terjemahan telah diserahkan dan sedang dalam proses pengeditan. Proyek ini dikoordinir oleh I Made Wiryana.
Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan dokumentasi-dokumentasi Linux yang biasa dikenal sebagai Linux-HOWTO ataupun Linux-Mini-HOWTO ke dalam bahasa Indonesia sehingga memudahkan pengguna Linux di Indonesia yang kesulitan dalam memahami bahasa Inggris. Proyek ini telah berjalan cukup baik dan dokumen-dokumen hasil proyek ini telah diintegrasikan ke dalam distribusi Linux RedHat. Proyek ini dikoordinir oleh Mohammad DAMT.
Proyek ini bertujuan untuk menerjemahkan perintah-perintah atau menu-menu yang ada dalam program-program KDE ke dalam bahasa Indonesia. Proyek ini dimulai pada April 1999, dan saat ini belum selesai karena kurangnya tenaga sukarelawan/ti yang turut serta.
Proyek ini ditujukan untuk para pengelola Warnet yang membutuhkan pengelolaan billing-nya. Saat ini proyek ini dipegang oleh Owo Sugiana. Sistem operasi yang menjadi dasar pembuatannya adalah GNU/Linux dengan memanfaatkan bahasa Python, PHP, dan PostgreSQL.
Proyek ini dikoordinir oleh Owo Sugiana. Software-software yang digunakan adalah GNU/Linux, Apache, PHP, dan PostgreSQL. Saat ini telah berhasil dibuat fasilitas pencarian buku-buku berdasarkan lima macam kriteria, yaitu judul, pengarang, subyek, penerbit, nomor katalog. Dan dengan fasilitas tersebut dapat pula diketahui status buku apakah sedang dipinjam atau tidak.
Proyek ini bertujuan untuk membuat distribusi Linux berbahasa Indonesia. Proyek ini dikomandani oleh Ahmad Sofyan.
Saat ini situasi keamanan di Indonesia sangat tidak dapat diduga. Hal ini tentu saja akan mengganggu tidak saja pengembangan proyek-proyek open source, namun kegiatan-kegiatan lainnya. Keadaan ini semakin diperparah dengan aturan-aturan hukum yang tidak berjalan serta tidak dihargainya para aparat penegak hukum, misalnya belum ditegakkannya hukum bagi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Kesemuanya ini akan menghambat perkembangan open source, karena dengan mudah dan murahnya orang memperoleh software-software proprietary maka software-software open source tidak akan diterima oleh masyarakat umum.
Software-software open source umumnya hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja, hal ini disebabkan belum gencarnya media Indonesia memberitakan mengenai gerakan open source ini. Akibatnya masyarakat secara umum belum mengetahui gerakan ini. Ketidaktahuan ini menyebabkan masyarakat lebih memilih software-software proprietary yang umumnya lebih dikenal, mudah didapat, dan murah harganya karena merupakan produk bajakan.
Umumnya software-software open source tidak dilengkapi dengan dokumentasi yang sesuai untuk dibaca oleh masyarakat awam karena bersifat teknis dan umumnya ditulis dalam bahasa Inggris, sehingga tentu saja akan menyulitkan mereka. Oleh karena software-software open source lebih bersifat developer oriented, seringkali aspek user kurang diperhatikan, akibatnya pemakai kesulitan dalam menggunakan software-software tersebut. Selain itu informasi-informasi untuk software-software tertentu tersebar di banyak tempat, sehingga seorang pemakai bila ingin mengetahui informasi-informasi tersebut, ia harus mencari di Internet dan pencarian ini relatif menyulitkan bagi masyarakat awam.
Distribusi software-software open source umumnya dilakukan melalui Internet. Akan tetapi karena koneksi Internet yang ada di Indonesia masih sangat memprihatinkan, maka tidak semua orang memiliki akses terhadap Internet dan bila pun memiliki akses, reliabilitas-nya sangat rendah, sehingga akan sangat sulit untuk mengambil (men-download), software-software yang berukuran besar, misalnya aplikasi StarOffice 5.1 berukuran kurang lebih 50MB. Bila software-software tersebut tersedia di para pedagang, umumnya merupakan software-software distribusi Sistem Operasi yang terkenal, misalnya RedHat Linux, SuSe Linux, sehingga untuk mereka yang memiliki kebutuhan yang berbeda akan timbul masalah.
Berkat kemudahan memperoleh software-software proprietary bajakan, para mahasiswa dan dosen tidak merasa perlu menggunakan software-software open source, karena tidak ada paksaan. Akibatnya mereka tidak menghargai software-software open source, meskipun software-software tersebut sangat baik. Selain itu, di dalam diri mereka tidak ada niat untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat, yang mereka utamakan adalah bagaimana cara memperoleh uang. Bila hal ini terus terjadi, maka di masa mendatang, dunia pendidikan Indonesia akan sangat tertinggal dari negara-negara yang menghargai HaKI dan menggunakan software-software open source. Karena dengan menggunakan software-software open source dunia pendidikan akan memperoleh manfaat.
Saat ini dukungan pemerintah secara nyata belumlah terlihat. Untuk mendapatkan dukungan pemerintah sebagaimana yang ada di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat seperti Jerman dan Perancis, hampir tidak mungkin, karena adanya keterbatasan dana dan permasalahan lain yang harus dihadapi pemerintah.
Agar mampu ikut serta dalam gerakan open source ini, maka sumber daya manusia (SDM) yang ada perlu ditingkatkan mutunya. Hal ini dapat dilaksanakan melalui jalur pendidikan formal sebagaimana yang ada di sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi, ataupun melalui jalur pendidikan informal, seperti kursus-kursus, seminar-seminar, pelatihan-pelatihan. Yang dapat diharapkan berperan besar dalam proses peningkatan mutu SDM ini adalah dunia pendidikan, dunia bisnis.
Dunia pendidikan dapat memulai dengan mengenalkan peserta didik pada software-software open source, mengajarkan pemakaian beberapa software yang dirasakan bermanfaat, serta akhirnya mengajarkan pemrograman dengan menggunakan software-software bahasa pemrograman open source, seperti C/C++, Perl, Python, PHP.
Dunia bisnis dapat membantu dunia pendidikan dengan memberikan hardware mereka yang sudah tidak dipakai lagi namun masih berfungsi, agar dapat digunakan dalam proses mengajarkan software-software open source pada peserta didik. Hal ini akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, bagi dunia bisnis, akan menghemat biaya penyimpanan maupun pemeliharaan, sementara dunia pendidikan mendapatkan hardware yang dibutuhkannya. Kemudian dunia bisnis dapat pula menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, seminar-seminar yang berkaitan dengan open source, bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk membuat software-software open source, misalnya suatu perusahaan software dapat bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk membuat suatu software yang memanfaatkan riset yang ada di dunia pendidikan.
Proyek-proyek open source umumnya dikerjakan oleh beberapa orang yang belum tentu berada pada lokasi dan waktu yang sama. Oleh karena itu dibutuhkan suatu mekanisme yang memungkinkan mereka agar dapat bekerja sama, mekanisme tersebut antara lain adalah Internet.
Keadaan koneksi Internet di Indonesia sangat buruk, bandwidth jaringan yang ada sempit dengan tingkat reliabilitas yang buruk serta biaya yang tinggi. Hal ini tentu saja akan menyulitkan pengembangan proyek-proyek open source. Biaya yang terdiri dari biaya pulsa telpon serta tarif pelayanan ISP yang tinggi merupakan alasan utama mengapa jumlah pemakai Internet di Indonesia masih rendah. Untuk dapat memperbaiki keadaan ini, maka peran pemerintah sangat dibutuhkan, utamanya untuk menurunkan biaya yang tinggi tersebut, misalnya dengan menetapkan bahwa tarif telpon lokal bersifat permanen (flat rate) tanpa peduli dengan seberapa lama telpon dipakai, atau pemerintah dapat menghapus monopoli telekomunikasi yang selama ini dimiliki oleh suatu perusahaan sehingga akan bermunculan para pesaing yang dapat menurunkan biaya. Dengan rendahnya tarif telpon maka akan semakin banyak masyarakat yang terkoneksi dengan Internet, Internet Service Provider (ISP) semakin banyak, akibatnya ISP berlomba-lomba untuk memperbaiki pelayanan mereka, misalnya dengan memperbaiki jaringan mereka agar dapat memberikan koneksi yang cepat, reliable dan murah, karena bila tidak customer dapat berpindah ke ISP lain yang lebih baik.
Dukungan terhadap gerakan open source dapat diwujudkan dengan cara membeli hardware ataupun software yang mendukung open source. Pembeli sebaiknya berusaha tidak membeli produk-produk yang tidak mendukung open source, misalnya jika driver2 suatu modem hanya dapat berjalan di sistem operasi proprietary, sebaiknya customer beralih membeli modem lain yang mendukung open source.
Pengembangan software berbasiskan open source merupakan suatu hal yang mungkin dilakukan oleh Indonesia. Dengan mengembangkan software secara open source akan memberikan banyak manfaat bagi Indonesia, antara lain adalah penghematan devisa yang digunakan untuk membeli produk closed-source software, selain itu akan menciptakan pula lapangan kerja.
Akan tetapi agar berhasil mewujudkan hal ini ada beberapa hal yang perlu terlebih dulu diatasi yaitu masalah hukum, keamanan, infrastruktur, ketersediaan sumber daya manusia, lingkungan yang mendukung. Bila masalah-masalah tersebut telah teratasi, bukan tidak mungkin suatu hari nanti Indonesia menjadi negara pendukung utama gerakan open source dengan banyak menghasilkan software-software open source.